Ini Penjelasan BRIN soal Wereng Jagung yang Menyebar di Kota Bima

Wereng terbang yang menyerang wilayah Kota Bima akhir-akhir ini menyebabkan kekuatiran di kalangan masyarakat, sudah hampir tiga pekan, wereng tersebut terus mengalami peningkatan jumlah. Fenomena ini dijelaskan oleh peneliti BRIN setelah BRIDA Kota Bima berkonsultasi terkait masalah tersebut.

Headline91 Dilihat

Kota Bima, Timurheadlinenews_

Serangga Terbang yang menyebar di Kota Bima hingga ke pemukiman penduduk yang diidentifikasi sebagai Wereng jagung Dalbulus maidis.

Peneliti BRIN, Dr. Suruani, SP, MP,  mejelaskan, hama ini hanya berbahaya bagi tanaman, karena berperan sebagai vektor penyakit kompleks “corn stunt” yang menyebabkan tanaman kerdil, klorosis, hingga gagal panen. Hama ini memiliki peran strategis sebagai vektor penyakit kompleks “corn stunt” yang disebabkan oleh patogen seperti Spiroplasma kunkelii, maize bushy stunt phytoplasma, dan maize rayado fino
virus.

Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya berasal dari aktivitas makan berupa penghisapan cairan floem yang menyebabkan klorosis dan pertumbuhan terhambat, tetapi terutama dari transmisi patogen yang dapat mengakibatkan kehilangan hasil hingga lebih dari 50% pada kondisi endemic.

 

Dengan siklus hidup yang relatif singkat dan kemampuan reproduksi tinggi, D. maidis mampu berkembang pesat pada kondisi lingkungan tropis dengan ketersediaan tanaman inang sepanjang tahun.
Faktor utama yang mendorong potensi penyebaran hama ini meliputi pola tanam jagung yang tidak serempak, mobilitas benih antar wilayah, perubahan iklim yang meningkatkan suhu rata-rata, serta penggunaan insektisida yang tidak selektif sehingga menekan populasi musuh alami.
Laporan terkini serangan hama ini terjadi di Kota Bima yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Menurutnya, langkah awal yang krusial adalah melakukan identifikasi spesies secara akurat terhadap wereng yang menyerang di Kota Bima.

“Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa spesies tersebut benar merupakan Dalbulus,” jelasnya.

Suriani menyebut, beberapa teknologi pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan perkembangan
populasi hama D. maidis diantaranya:
Strategi kultur teknis seperti tanam serempak, rotasi tanaman dengan noninang, sanitasi lahan dapat menekan populasi awal dan sumber inokulum
penyakit. Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu strategi kultur
teknis yang efektif, sehingga diperlukan evaluasi ketahanan varietas jagung
eksisting terhadap serangan hama ini sehingga nantinya varietas-varietas
tahan dapat direkomendasikan dikembangkan di wilayah endemic.
Pengendalian biologis juga berperan penting melalui pemanfaatan musuh
alami dan agen hayati, termasuk cendawan entomopatogen seperti
Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae. Penelitian pemanfaatan
agens hayati tersebut di Indonesia belum ada spesifik langsung ke D. maidis,
namun keefektifan agens hayati ini banyak dilaporkan dalam menekan
perkembangan populasi wereng.
Pengalaman pada tanaman padi juga membuktikan bahwa Beauveria dan
Metarhizium dapat digunakan sebagai agen hayati penangulangan wereng
coklat, Nilavarpata Lugens Saat ini telah di patenkan agen hayati. Peneliti
BRIN sudah mengidentifikasi Metarhizium anisopliae dari isolate lokal, yang mungkin juga efektif untuk pengendalian wereng jagung ini.
Melakukan pemantauan secara berkala dengan lakukan pengamatan setiap
1–2 minggu sekali sejak tanam hingga menjelang panen (terutama pada fase
vegetatif dan generatif awal). Populasi wereng per batang diamati pada 10–
20 tanaman secara diagonal atau acak sistematis di pertanaman jagung. Jika
ditemukan lebih dari 5 imago per tanaman segera lakukan penyemprotan
Insektisida.
Penggunaan insektisida kimiawi tetap dapat dilakukan, namun harus
bersifat selektif, berdasarkan ambang kendali, dan dilakukan secara
bijaksana untuk mencegah resistensi. Sebelum dilakukan penyemprotan pestisida.

Insektisida berbahan aktif imidacloprid dan Nitenpyram direkomendasikan untuk pengendalian hama ini. Mengingat aktivitas wereng tinggi saat pagi dan sore hari, maka aplikasi insektisida disarankan pada kedua waktu tersebut.

Melakukan eradikasi dengan membuang dan menghancurkan tanaman jagung yang terinfeksi corn stunt untuk mencegah penularan yang lebih luas. (tim)